Literasi Digital Netizen Indonesia, Paling Banyak Cari Soal Keamanan Siber

Netizen Indonesia paling banyak mencari informasi tentang keamanan siber. Kecenderungan ini diketahui melalui program Ruang Literasi Digital hasil kerja sama Kementerian Komunikasi dan Informatika dengan Ruangguru.

Kepala Kebijakan Publik Ruangguru, Amri Ilmma mengatakan, program Ruang Literasi Digital meliputi 50 konten video yang telah diakses 350 ribu orang. Dari puluhan konten video tersebut, menurut dia, ada lima video yang paling banyak diakses di Ruang Literasi Digital.

Lima video itu membahas pilar Aman Bermedia Digital, yaitu “Fakta Menarik yang Wajib Kamu Tahu tentang Ruang Digital”, “4 Penipuan Digital yang Harus Kita Ketahui”, “5 Cara Jitu agar Terhindar dari Hacker”, “10 Langkah Ampuh Mengelola Rekam Jejak Digital”, dan “Keamanan Berselancar di Media Digital”. “Masyarakat Indonesia sangat peduli terhadap isu keamanan siber. Buktinya, konten ini yang paling banyak diakses,” kata Amri dalam keterangan tertulis, Kamis 30 Desember 2021.

Program Ruang Literasi Digital di Ruangguru hadir pada Agustus 2021 untuk meningkatkan kecakapan digital masyarakat. Amri menjelaskan, kelompok masyarakat yang menjangkau program Ruang Literasi Digital ini terdiri atas dosen, mahasiswa, karyawan, dan ibu rumah tangga.

“Masyarakat membutuhkan edukasi agar dapat bermedia digital dengan lebih cakap, aman, etis, dan berbudaya,” ujarnya. Selain pilar Aman Bermedia Digital, dalam Ruang Literasi Digital juga terdapat pilar Cakap Bermedia Digital, Etis Bermedia Digital, dan Berbudaya dalam Bermedia Digital.

Survei Index Cybersecurity Exposure (ICE) pada 2020 menunjukkan, tingkat kejahatan siber di Indonesia mencapai 0,62 atau lebih tinggi dari rata-rata global yang berkisar di 0,54. Kementerian Komunikasi dan Informatika juga mencatat ada lebih dari 200 ribu kasus penipuan perbankan yang dilaporkan sepanjang Maret 2020 hingga November 2021.

Hingga Januari 2021, jumlah pengguna internet di Indonesia mencapai 202,6 juta atau 73,7 persen dari total populasi. Angka ini naik 37 persen akibat pandemi Covid-19 yang membatasi ruang gerak masyarakat dan memaksa untuk menggunakan internet dalam memenuhi kebutuhan sehari-sahari, seperti bekerja dan belajar online.

Hanya saja, peningkatan penetrasi internet ini belum seiring dengan kemampuan literasi digital yang mumpuni. Akibatnya, banyak dampak negatif, seperti penipuan, cyber bullying, dan penyebaran berita bohong alias hoax. “Kami harap kegiatan ini membantu meningkatkan kemampuan masyarakat dalam ranah keamanan di dunia siber,” kata Semuel A. Pangerapan, Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Tinggalkan Balasan