Sentimen Tapering The Fed, Rupiah Ditutup Melemah Tipis di Rp 14.373 per Dolar

Nilai tukar rupiah ditutup melemah 7 poin di level Rp 14.373 per dolar AS dari penutupan sebelumnya yang di level Rp 14.366 per dolar AS. Pergerakan nilai tukar itu salah satunya dipengaruhi dolar yang menguat pada hari ini.

“Para pedagang bertaruh angka inflasi yang lebih tinggi dan pasar tenaga kerja yang ketat dapat memacu The Fed untuk mempercepat pengurangan aset dan menaikkan suku bunga lebih awal dari yang diharapkan,” ujar Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangan tertulis, Jumat, 10 Desember 2021.

Data yang dirilis pada hari Kamis menunjukkan bahwa 184.000 klaim pengangguran awal diajukan sepanjang minggu.

Ini adalah jumlah terendah dalam lebih dari 52 tahun, karena kondisi pasar tenaga kerja terus mengetat di tengah kekurangan pekerja yang akut. Dengan situasi itu, inflasi di negeri Abang Sam diprediksi akan meningkat dan mendekati 7 persen di awal tahun baru.

Sentimen lainnya adalah proyeksi IMF mengenai pertumbuhan ekonomi global. Angka pertumbuhan ekonomi itu diperkirakan sebesar 4,9 persen pada 2022 dan masih berpotensi turun akibat varian Covid-19 terbaru, omicron.

Di sisi lain, adanya varian baru Omicron sekaligus gangguan rantai pasok kembali menekan kegiatan perekonomian yang mulai pulih pada Kuartal Keempat 2021, sehingga berimplikasi pada ekonomi tahun depan. Krisis ini diperkirakan akan memiliki dampak berkepanjangan atau scarring effect pada ekonomi dan kelompok rentan.

12 Selanjutnya

“Varian Omicron menciptakan ketidakpastian Covid-19 menjadi lebih agresif,” kata Ibrahim Assuaibi. Terlebih lagi, krisis akan semakin dalam seiring adanya tekanan inflasi yang dapat menyebabkan pengetatan kebijakan moneter secara lebih cepat dari perkiraan di negara maju.

Tekanan inflasi dan pengetatan kebijakan moneter ini akan memperketat kondisi keuangan global dengan beberapa potensi limpahan di emerging market dan negara berkembang. Turunnya proyeksi IMF terhadap pertumbuhan ekonomi global, kata Ibrahim, diperkirakan akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2021.

Sebelumnya pemerintah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi di 4 persen. “Pemerintah perlu merevisi pertumbuhan ekonomi dan bisa diumumkan di bulan Desember 2021, agar pasar kembali optimis terhadap perekonomian Indonesia yang saat ini relatif lebih baik di bandingkan dengan negara Asia lainnya,” ujar Ibrahim.

CAESAR AKBAR

Tinggalkan Balasan